Rabu, 18 Desember 2019

-*- Kepleset -*-




Kurang lebih dua tahun yang lalu, kami pulang ke kampung halaman kelahiranku, dengan jarak tempuh yang lumayan melelahkan, tiga jam perjalanan dengan mengendarai sepeda motor, membuat punggung kami terasa panas dan kaki sedikit kaku.
.
Ia yang mengendarai motor dengan sabar, sesekali mematikan mesin kendaraan, hanya untuk istirahat sejenak di pinggiran jalan, tepat disana ada bangunan yang tenang dan penuh kedamaian, ya..di tempat itu ia membasuh wajahnya dengan air wudhu dan bersujud di rumahNya.
Mungkin ia sedang memberikan pelajaran pada buah hatinya, bahwa dimanapun kita berada harus tetap menyembahNya, mesti rasa lelah menyapa.
.
Istirahat cukup, dan kamipun melanjutkan perjalanan, masih setengah jarak lagi yang harus kami lampui, pas di pertigaan alun-alun kota,  suara gesekan kendaraan dan aspal jalanan beradu kuat, bruuuuughhh....kami terjatuh dari motor yang ia bawa, sandalku terpental entah kemana, kaki tangan kami terluka, buah hatiku yang ku gendong tertindih motor, yang beratnya sudah tidak kami rasa, celana panjang yang ia kenakanpun menganga. 
.
Kendaraan kami terpleset karena jalanan basah, kurasa ia sudah berhati-hati membawa kendaran, memang posisi pas di belokan agak tajam, motor dibelakang kamipun seketika berhenti, membantu kami membersihkan barang-barang yang berserakan di tengah jalan alun-alun kota.
.
Ku putuskan untuk menelpon keluarga, 'maaf bu..kami tak jadi pulang, qodarullah kami terpleset dijalan', cakapku pada ibu.
.
Ia pun memutar arah jalan pulang, kami tak jadi melanjutkan perjalanan ke kampung halaman, kondisi kami tidak memungkinkan, karena jarak tempuh lebih dekat ke jalan pulang, kamipun akhirnya memutuskan untuk pulang.
.
Itulah sesi kehidupan yang harus kami terima dengan keridhoan, tak akan dihisab, karena kondisi tersebut diluar kekuasaan insan, tugas kami menerima dengan ikhlas, insya allah jika bersabar dalam cobaan  IA akan beri pahala sebagai balasan.
.
Meski di pandang buruk, dan manusia tidak menyukainya, namun insya allah didalamnya ada kebaikan, kami semakin yakin bahwa kami tak kuasa, tak bisa menahan celaka, sungguh hanya IA yang maha sempurna, penggenggam dan pengatur alam semesta, mampu melakukan apa saja pada hambaNya. Tugas manusia hanya taat pada ketetapanNya.
.
Baik menurut kita belum tentu baik menurutNya,
Buruk menurut kita belum tentu buruk menurutNya,
Semua yang terjadi diluar kuasa, sudah menjadi takdir yang harus kita terima dengan lapang dada.

05.19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar