Rabu, 21 Maret 2018

~*~ Orangtua ~*~

Orangtua tetaplah orangtua.
Saat anaknya menangis karena mengakui kesalahannya, saat itupula orang tua ikut menangis karena telah melemparkan pukulan ke kaki mungilnya.

Orangtua tetaplah orangtua.
Saat anaknya keluar rumah tanpa seizinnya.
Orangtua akan menunggu dengan setumpuk rasa khawatir menyelimuti dada.
Dan air mata itu tak sengaja jatuh dari pipinya.

Orang tua tetaplah Orang tua.
Meski anaknya sudah dewasa, orang tua akan tetap menyanyanginya, sama persis seperti ia masih balita.

Orangtua tetaplah orangtua.
Meski anaknya meminta maaf dengan cucuran air mata.
Tanpa dimintapun orangtua sudah memaafkannya.

Minggu, 04 Maret 2018

~*~ Hijab Terakhir ~*~


Kalau lihat diskon hijab.
Siapa coba yang tak suka ya?
Apalagi diskon hijab yang besar-besar an, tak ayal kaum hawa pun ingin segera membelinya.

Hijab kekinian dengan berbagai model dan motif, membuat para kaum hawa ingin mendapatkannya.

Tak ada salahnya membeli hijab.
Yang salah adalah mengkoleksinya hingga banyak, sampai ada yang tak terpakai.

Tapi apakah terfikir untuk membeli hijab terakhir ?
Hijab yang akan dikenakan saat 'pulang' menghadapi Rabb semesta alam.

Hijab  yang tidak ada motif,
Tidak ada warna-warni.
Hanya kain putih yang kasar lagi panas.
Yang akan membalut seluruh tubuh ini.

Pernahkah terpikir untuk mengkolekainya?
Untuk diri, suami atau anak kita?

Astagfirullah.. :'(

Terkadang yang terpikir hanya urusan dunia.
Urusan akhirat jadi terlupa.

Yang belum berhijab sesuai perintahNya.
Semoga allah mudah kan untuk bersegera.
Karena kita tak tahu kapan allah akan memanggil kita.

*Muhasabahku

Kamis, 01 Maret 2018

~*~ Ghuota Berduka ~*~

Di media sosial penuh dengan foto dan video anak-anak Ghuota,

Tubuh mungil itu hancur lebur tak tersisa.

Ada genggaman sepasang tangan anak dan ibu yang terpisah dari tubuhnya.

Ada tangisan anak-anak tak berdosa.

Mereka menjerit meronta-ronta.

Dikelilingi jasad kaku bermandikan darah dimana-mana. :'(

Dan masihkah layak ku tertawa bahagia?

Ya allah..
Maafkan kami nak.

Kami umat muslim bagaikan buih di lautan.
Jumlah kami banyak.

Tapi kami tak berdaya.
Tak bisa menolong untuk memberhentikan semua kezaliman yang dirasakan disana.

Bom bertubi-tubi.
Korban banyak berjatuhan,
Termasuk kamu nak,
Wajah mungil nan lucu tubuhmu bersimbah  darah.
Dan banyak temanmu pun yang meregang nyawa.

Ya allah...
Dimana suara para pemimpin muslim negeri ini?
Sampai saat ini pemimpin kami belum juga menghentikannya.
Tentara-tentara kaum muslim belum juga dikirim kesana.

Ya allah..
sungguh sesak dada ini menyaksikannya.
Anak kecil tak berdosa, terpaksa kembali ke pangkuanMu karena ulah kebengisan penguasa yang durjana.

Bukankah kaum muslim itu bagaikan satu tubuh.
Saat kaki merasa sakit anggota tubuh yang lainnya pun merasakannya?

Sayangnya saat ini tidak begitu adanya.
Kaum muslim di sekat-sekat oleh nasionalisme.
Menganggap bahwa Guotha,
bukanlah masalah kita.
Adalah masalah mereka.
Disana adalah penderitaan mereka.

Ya allah...
Sungguh kami butuh pemimpin yang peduli dan mampu menjaga darah saudara kami.
Pemimpin yang menjadi perisai bagi kaumnya.

Bersatulah wahai kaum muslim, dibawah satu kepemimpinan yang mau menjaga hak-hak hidup manusia.
Termasuk Goutha.
Karena mereka adalah saudara kita.