- Cek cek amalan diri, apakah kebaikan lebih banyak dari kemaksiatan?atau sebaliknya.
Apakah sosmedan lebih lama daripada baca al quran.atau sebaliknya?
Pegang hape kuat berjam-jam.
Giliran baca Al quran.
Ampuuun dah.. Dapat selembaran, tangan pengen tutup udahan.
Mata merem melek ngajak tiduran.
Duduk udah geser kiri geser kanan.
khatam sekali juga tahunan.
Duuuh...syetan memang tugasnya demikian.
Menggoda dan menyesatkan insan.
Ingat selalu bahwa kita tak lepas dari pantauan tuhan.
Segera sadarkan diri bahwa hidup ini sementara kawan.
Baik buruknya akan dipertanggungjawabkan.
Jangan lupa berdoa agar selalu dijauhkan dari kemaksiatan.
Minta kepada allah agar istiqomah dalam ketaatan.
Karena sungguh dunia ini hanya tempat persinggahan.
Tempat abadi kita di akhiratnya robb semesta alam.
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS.Al anam:32)
Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.(QS.Taha:15)
Astagfirullah.... akhir kita akan ditentukan oleh kebiasan kita sehari-hari.
Dihabiskan dengan Ketaatan kah?
Atau kemaksiatan?
Mata,tangan, kaki mulut kita?
Sudahkah berjalan sesuai dengan apa yang diperintahkan.
Astagfirullah... Buatlah aktifitas sehari-hari semakin bertambah mendekat pada ilahi. - #Pengingat untuk diri yang penuh dosa.
Berbagi Cerita
Rabu, 15 April 2020
_*_ Resep Cistik Anti Gagal _*_
Ada kisah tersendiri, ketika pulang kampung ke rumah suami, selalu ada kesan rindu, saat lama tak bertemu, kampung halamannya begitu ngangenin, tak hanya alun-alun dan mesjidnya, tapi sudut dapur ruangan Ibu, yang disana selalu ada hasil buatan tangannya, enak dan selalu bikin ketagihan, hihi..
Bolu, sambel kentang, kue kering, dan yang sekarang lagi sering banget di bikin adalah, makanan ringan cistik, meski tanpa keju, tapi rasa enaaaak banget, mungkin karena dibuat dengan cinta yang tulus dari dalam hati, jadi hasilnya pun niqmat enak banget. :)
Dan untuk melepas rasa rindu terhadap cemilan yang satu itu, aku buat sendiri dong di rumah, udah coba dua kali sih, meski rasa agak beda ya, tapi tetep enak tau. hihi...alhamdulillah gak bertahan lama di toples, langsung habis mak.
Nah, kali ini mau coba share nih, resep cistik atau stik bawang ala aku.
Bahan-bahan:
* 1/2 kg Tepung terigu
* 1 sendok Korsvet
* 2 sendok margarin
* 1 butir telur
* 1 bungkus penyedap rasa (ro*ko)
*secukupnya garam dan irisan daun seledri
Cara membuat:
1. Siapkan wadah bersih, tuangkan terigu dan korsvet, campur sampai merata.
2. Lelehkan margarin, setelah hangat masukan penyedap rasa dan garam, aduk sampai merata, lalu masukan ke dalam tepung terigu.
3. Masukan telur, air dan daun seledri, uleni sampai kalis.
4. Jika sudah kalis, siapkan gilingan, lalu potong dengan ketebalan sesuai selera.
(Kalau aku, pertama giling di no 2, lalu no 3, setelah itu potong seukuran mirip mie ya)
5. Panaskan wajan, dan goreng semua adonan stik sampai kuning keemasan.
Selamat mencoba ya, lumayan setengah kilo dapatnya banyak banget, alhamdulillah, jadi jajan sehat di rumah deh, jika kita bisa buat cemilan untuk keluarga tercinta, tentu ini sangat menguntungkan perekonomian para emak-emak. hihi.
Mendukung untuk menekan perdompetan, agar tetap tebal kan ya mak, hihi..
Saat di rumah saja seperti ini, jajan diluar sudah tidak memungkinkan lagi, banyak pedagang yang tutup, dan entah sampai kapan virus ini kan berakhir.
Harapku diakhir tulisan ini,
agar semua kembali normal, dan bisa menjalankan aktifitas seperti biasa lagi. Aamiin..
Kamis, 02 Januari 2020
-*- Berani Berhijrah -*-
Patut disyukuri saat ini gelombang hijrah begitu deras, terutama dari para artis. Kita tahu dunia artis begitu sangat di elu-elukan semua kalangan. Bagaimana tidak, secara kasat mata pekerjaan artis memang begitu menggoda, dengan honor yang besar siapa yang tak tergoda.
Tapi ternyata, setelah banyak artis yang hijrah, mereka begitu menyesal dengan dunia keartisanya, ada yang menyesal karena dosa jariyah sebab membuka aurat, ada yang menyesal karena sudah bermain riba demi kepuasan batinnya, ada pula yang meyesal karena selalu meninggalkan sholat, sebab tak ada waktu untuk melaksanakannya.
Sungguh mereka terbilang berani berhijrah, sebab rela meninggalkan kesenangan dunia yang sementara, demi mengraup ilmu agama secara kaffah. Meninggalkan keglamoran dunia artis, demi ketenangan batin dalam ketaatan padaNya.
Kepikiran aja, mereka yang artis punya segalanya berani banget berhijrah, kita (aku) yang bukan siapa-siapa, sudah siapakah berhijrah demi taat pada seluruh perintahNya?
Renungkanlah, Allah sudah kasih kita nafas sampai detik ini, sudah cukupkah amal yang akan dibawa, untuk pulang ke kehidupan yang hakiki?
Tahun sudah berganti, tapi ketaatan dalam diri masih segini-gini aja, siapkan diri untuk berani berhijrah, sebelum Allah cabut segala nikmat yang ada dalam diri kita. Jangan sampai penyesalan itu tiba, saat nafas sudah tak lagi ada.
Guys, yuk hijrah, kita bisa memulainya dengan,
1. Bergabung dengan orang-orang sholeh yang haus ilmu agama.
Zaman sekarang kajian keagaman itu udah menjamur banget, tinggal mau datang dan niatkan karena Allah semata.
Berkumpulnya dengan orang-oramg sholeh, insya allah akan saling mengingatkan kita pada kebaikan.
2. Ikuti kajian keagaman secara rutin.
Guys, iman itu kadang naik kadang turun, so harus banget di charge, minimal setiap minggu sekali kamu datang ke kajian. Agar semangat menuntut ilmu agama terus terjaga.
3. Selalu hadirkan Allah di saat melakukan aktivitas apapun, dengan begitu kita merasa di awasi oleh Allah, sehingga takut untuk melakukan hal yang sia-sia atau dosa.
4. Gak usah dengerin kata orang diluar sana, yang bilang 'sok suci' atau perkataan negatif apapun itu, ketika kamu sudah mantap berhijrah, maka yakinlah, Allah akan mendekapmu dalam nikmatnya beriman.
Selamat berhijrah,
Selamat memilih jalan taat.
Mendekat padaNya tanpa tapi tanpa nanti.
Pict : internet
Rabu, 25 Desember 2019
_*_ Tips Bisa Nulis _*_
Tipe-tipe orang dalam mengungkapkan isi pikiran memang unik, ada yang fasih berbicara, tapi sulit merangkai kata pada selembar kertas.
Ada yang hebat menulis, tapi kesulitan untuk berbicara di depan khalayak.
Kadang kita mengira orang yang pandai berbicara pandai juga merangkai kata, ternyata tidak juga, ada loh, mereka yang pandai mengekpresikan diri dalam berkata, tapi belum bisa menuangkan aksara ke dalam tulisan, pun sebaliknya.
Sebetulnya potensi orang dalam menulis, berbicara atau apapun itu.
Bukan dilihat dari bakat yang ada pada diri seseorang, melainkan pada mau tidaknya ia untuk belajar.
Belajar untuk berbicara di depan orang, belajar untuk menulis sampai mahir.
Berbicara untuk menyampaikan apa yang sudah kita tahu, misalnya tentang dilarangnya berpacaran, mencontek, berbohong, marah dengan teman lebih dari tiga hari, atau tentang ilmu apa saya yang kita ketahui.
Pepatah mengatakan bisa itu karena terbiasa, sesering mungkin kita berbicara di depan banyak orang, seiring berjalannya waktu insya allah, kita akan berani berbicara mengungkap apa yang tersimpan dalam pikiran kita.
Semua memang berproses, ada yang sekali dua kali sudah berani, ada yang harus berulang-ulang kali, baru ia akan berani.
Begitupun dengan menulis, menulis adalah aktivitas menuangkan ide yang ada di pikiran kita, cara termudah agar lancar menulis yaitu dengan menuliskan pengalaman hidup, coba deh di ingat-ingat, kenangan apa yang membuat kamu merasa bahagia dalam menjalani hidup, pasti banyak banget kan, tuangkan saja dalam secarik kertas, bisa jadi kenangan kamu bisa menginspirasi sahabat yang lainnya.
Puluhan terori menulis tak akan berarti, jika kita enggan memparktekkan atau mencobanya.
Semua bisa dimulai dengan belajar menuliskan sesuatu yang mudah, yang pernah kita alami dan rasakan dalam hidup ini, dijamin tulisan kita akan mengalir.
Sobat, jangan mengedit tulisan saat kita asyik menulis ya, tulis saja sampai merasa tulisan kita sudah selesai. Nah, baru setelah itu kita edit.
Jika sedang menulis, lalu sebentar-sebentar di edit, biasanya tulisan kita gak akan selesai.
Tidak usah memikirkan apakah tulisan kita bagus atau tidaknya, untuk pemula menuliskan sesuatu yang mudah adalah cara paling jitu, Insya allah biasanya kata-kata yang keluar dari perasaan, akan menyentuh hati para pembaca.
Tak lupa untuk menunjang tulisan agar lebih bergizi, kita harus rajin membaca dan terus melatih menuangkan rasa ke dalam tulisan.
Menulis adalah aktivitasnya orang-orang hebat, hasil tulisannya bisa dibaca ratusan kepala, dan menjadi amal jariyah ketika penulisnya sudah tiada.
'Setiap penulis akan mati, Hanya karyanyalah yang abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti'.
Yuk berlomba-lomba menyebar kebaikan lewat tulisan, tulisan yang bermanfaat yang bisa pembaca petik hikmahnya.
Rabu, 18 Desember 2019
-*- Kepleset -*-
Kurang lebih dua tahun yang lalu, kami pulang ke kampung halaman kelahiranku, dengan jarak tempuh yang lumayan melelahkan, tiga jam perjalanan dengan mengendarai sepeda motor, membuat punggung kami terasa panas dan kaki sedikit kaku.
.
Ia yang mengendarai motor dengan sabar, sesekali mematikan mesin kendaraan, hanya untuk istirahat sejenak di pinggiran jalan, tepat disana ada bangunan yang tenang dan penuh kedamaian, ya..di tempat itu ia membasuh wajahnya dengan air wudhu dan bersujud di rumahNya.
Mungkin ia sedang memberikan pelajaran pada buah hatinya, bahwa dimanapun kita berada harus tetap menyembahNya, mesti rasa lelah menyapa.
.
Istirahat cukup, dan kamipun melanjutkan perjalanan, masih setengah jarak lagi yang harus kami lampui, pas di pertigaan alun-alun kota, suara gesekan kendaraan dan aspal jalanan beradu kuat, bruuuuughhh....kami terjatuh dari motor yang ia bawa, sandalku terpental entah kemana, kaki tangan kami terluka, buah hatiku yang ku gendong tertindih motor, yang beratnya sudah tidak kami rasa, celana panjang yang ia kenakanpun menganga.
.
Kendaraan kami terpleset karena jalanan basah, kurasa ia sudah berhati-hati membawa kendaran, memang posisi pas di belokan agak tajam, motor dibelakang kamipun seketika berhenti, membantu kami membersihkan barang-barang yang berserakan di tengah jalan alun-alun kota.
.
Ku putuskan untuk menelpon keluarga, 'maaf bu..kami tak jadi pulang, qodarullah kami terpleset dijalan', cakapku pada ibu.
.
Ia pun memutar arah jalan pulang, kami tak jadi melanjutkan perjalanan ke kampung halaman, kondisi kami tidak memungkinkan, karena jarak tempuh lebih dekat ke jalan pulang, kamipun akhirnya memutuskan untuk pulang.
.
Itulah sesi kehidupan yang harus kami terima dengan keridhoan, tak akan dihisab, karena kondisi tersebut diluar kekuasaan insan, tugas kami menerima dengan ikhlas, insya allah jika bersabar dalam cobaan IA akan beri pahala sebagai balasan.
.
Meski di pandang buruk, dan manusia tidak menyukainya, namun insya allah didalamnya ada kebaikan, kami semakin yakin bahwa kami tak kuasa, tak bisa menahan celaka, sungguh hanya IA yang maha sempurna, penggenggam dan pengatur alam semesta, mampu melakukan apa saja pada hambaNya. Tugas manusia hanya taat pada ketetapanNya.
.
Baik menurut kita belum tentu baik menurutNya,
Buruk menurut kita belum tentu buruk menurutNya,
Semua yang terjadi diluar kuasa, sudah menjadi takdir yang harus kita terima dengan lapang dada.
05.19
Buruk menurut kita belum tentu buruk menurutNya,
Semua yang terjadi diluar kuasa, sudah menjadi takdir yang harus kita terima dengan lapang dada.
05.19
-*- Jamur dan Ulat -*-
Pagi ini ceritanya masak supa, you know kan supa, asal kata dari bahasa sunda alias jamur, hihi..jamur ini kesukaan Aqila banget, sampe di gadoin kayak cemilan, dia termasuk anak yang suka semua jenis sayuran sih, pernah juga nyicip pare, tapi gak jadi di makan, gak kuat dengan rasanya yang pahit katanya. (Pahit umi, aqila gak suka . :D)
.
.
Saya emak yang suka mengenalkan makanan yang sehat, halal dan toyib, bukan cuman buat menunjang kesehatannya, tapi memperkenalkan bahwa dalam agama ada loh makanan yang boleh dan gak boleh dimakan, (halal dan haram).
.
.
Tapi...kali ini di bikin terkejoet dengan aksi si imut di dalam supa, ya..bentuknya hitam mungil gitu, meski gak bergerak, tapi tetep aja bikin emak syoook kan. :D
.
.
Terus...gimana nih, lanjut dimasak apa di buang, batinku berbisik, 'kalau dibuang, mubazir loh, itukan cuman sebatang supa doang, inget diluar sana masih banyak yang gak bisa makan, ko kamu main buang-buang makanan, udah masak aja kan bisa dicuci bersih'.begitu kata batinku. :D
.
.
Akhirnya aku ikutin kata batinku, :D ku cuci bersih berkali-kali dan ku masak dengan bumbu sederhana, hanya irisan duo bawang, cabe dan tomat, pelengkapnya garam dan kaldu, agar sedap. Hasilnya lumayann enaak loh, sampe sisa dikiit lagi. :D
.
.
Dari masak supa saya belajar, masak gerak cepat itu kadang gak baik, kenapa?karena kita akan kecolongan dengan satu makhluk yang ngupet di dalamnya. :D.
.
.
Tetep kudu hati2 ya, nikmati aja prosesnya, sama halnya ketika kita menjalani hidup ini, tetap harus hati-hati dibuat enjoy aja (syukur), jangan ngelabrak aturan yang sudah di tetapkan Tuhan, contohnya sudah tau riba itu haram, ya harus ditinggalkan, itu adalah sebuah konsekunsi keimanan kita ke Allah. Taat sepenuhnya tanpa tapi.
.
.
Serang
04.30
Rabu, 12 Desember 2018
~*~ ISTRIKU CEMBURU ~*~
Dan untuk kali ini, aku harus mengatakan tidak pada teman-teman ku, untuk ikut bersama mereka "jalan-jalan".
Cukup sering aku bepergian keluar kota, untuk melaksanakan aktivitas sembari jalan-jalan menikmati kota yang dituju. Menikmati keindahan alamnya maupun kulinernya. Efek sampingnya, aku berjauhan dari istri dan anakku.
Istriku sepertinya cemburu yang akhirnya dengan kondisi yang ada, aku harus meng-cancel jadwal di dua weekend kemarin. Satu jalan-jalan ke Jawa Barat dan satunya lagi ke Ibukota negara.
Istriku mengajak untuk menginap diluar rumah, fix kali ini aku harus menyetujuinya. Survei ke beberapa tempat penginapan, akhirnya aku lakukan. Dan akhirnya, jadilah tempat penginapan disalah satu pinggiran kota.
Kamis, 5 Juli 2018 pihak penginapan meneleponku. Katanya, ada kamar kosong sehingga besok Jumat kami dipersilahkan untuk datang menempatinya. Jumat siang kami berangkat berdua kesana, sementara Aqila putriku bersama adik-adikku dirumah.
Sekamar berdua hanya bersama istri, bedanya dia mendapatkan pelayanan spesial dari penginapan. Bubur dan kecap adalah menu yang dihidangkan. Tidak lebih dari itu. Malamnya, pihak penginapan memintaku untuk mengambil menu spesial di Palang Merah Indonesia. Dua kantong jus merah berjenis O plus.
Sabtu dan Minggu, masih bermenukan bubur dan kecap, sambil sesekali melihat tayangan berita sebagai hiburannya. Weekend kali ini tidak ada menu lainnya. Sesekali aku izin ke istri untuk pulang ke rumah menjenguk Aqila, sembari membawakan es krim kesukaannya. Sampai di rumah, hanya video call yang mengantarkan kerinduan Ibu dan anaknya.
Senin, menu untuk istri berubah yaitu segelas susu tiap dua jam sekali, hingga tengah malam nanti dia harus mulai puasa.
Selasa siang, pihak penginapan menjemput untuk pindah kamar tidak jauh dari sebelumnya. Ummu Aqila akan menjalani pelayanan yang lebih intensif, untuk mengambil sesuatu yang ada di colonnya. Prosesnya cukup lama, kurang lebih 4 jam di kamar yang di pintunya bertuliskan steril itu.
Jam setengah empat aku dipanggil untuk masuk ke ruangan steril tersebut, melihat istri ku tertidur karena bius, namun tergambar jelas diraut wajahnya menahan rasa sakit. Kulihat sesuatu yang ditunjukkan oleh Bapak yang menggunakan masker, penutup kepala dan berseragam biru muda bahwa seonggok daging merah bercampur darah itulah yang membuat dia selama ini sering mengeluh.
Dengan kasur beroda empat, istriku dibawa kembali ke kamar tempat menginap sebelumnya. Belum sadar, namun sedikit bisa memberikan isyarat. Hingga Maghrib ia sudah mulai sadar sembari diiringi rasa sakit karena bedah diperutnya.
Sekali lagi ini aku katakan, aku menyayanginya karena Allah. Dengan kondisi yang demikian, ia tetap berusaha melaksanakan shalat Maghrib dengan kondisi tertidur dan sekedar isyarat. Dan berkomitmen untuk mengganti (qodho) sholat dhuhur dan ashar yang terlewat.
Rabu, Kamis masih belum banyak perubahan. Jumat ini tepat seminggu dia bermalam disini, alhamdulillah sudah mulai cukup lancar untuk diajak berbicara dengan sesekali hanya isyarat. Ummu Aqila tidak diperbolehkan untuk makan atau minum selama tiga hari, melainkan hanya asupan cairan dari selang yang mengalir melalui tangannya.
Ya Allah Ya Tuhanku, Tuhan dari segala manusia dimuka bumi, berikanlah kesembuhan kepadanya, angkatlah penyakitnya, dan jadikanlah penyakit yang ia derita sebagai pelebur dosa. Hanya kepadamu lah kami meminta kesembuhan, kesembuhan yang tak ada kambuh lagi." ( H.R. Bukhari dan Muslim)
--Ayah Aqila--
Rabu, 21 November 2018
Langganan:
Postingan (Atom)





