Tepat di hari Selasa tanggal dua puluh empat bulan April dua ribu delapan belas, kurang lebih pukul setengah dua siang.
Kala itu aku sedang mengiris wortel untuk bahan isian risol jualan ibu.
Ku kupas wortel satu demi satu sampai selesai, ku iris berbentuk kotak-kotak, ukurannya tidak boleh lebih besar, harus kecil-kecil agar tidak sobek saat digulung ke dalam kulit risol.
Ku iris satu persatu-satu di atas 'talenan' dan tampah besar, sedikit mengerakkan badan yang kurang fit, agar aliran darah kembali berjalan dengan normal.
Tak lama, ku dengar suara dari sudut ruang rumah ibu.
'Umi bukaa..'
Dua kali..tiga kali..suara itu tak ku hiraukan, batinku berkata aqila anakku aman, sedang main masak-masakan di ruang tengah.
Aku pun melanjutkan mengiris wortel dengan tenang.
Semakin lama suara itu semakin kencang.
'Umiiiii bukaaaaa....'
'Astagfirullah...'
Langsung ku berlari menuju sumber suara.
Dek.....dimana? Rasa penasaranku menyeruap dalam jiwa.
'Umi bukaaaa'.
Bruugg...bruug.. .brugg..
Suara itu terdengar dari dalam kamar tengah. Dengan kondisi pintu tertutup.
Pintu yang tanpa pegangan itu sudah mulai rusak, saat di tutup pun kondisinya seperti dikunci rapat.
Tangan mungilnya tak bisa menarik pintu untuk membukanya, karena sulit tak ada pegangan untuk ditarik.
Aku pun saat ingin membuka pintu dari dalam kamar, harus menarik paku yang terpatri kuat di belakang pintu itu.
'Ya allah dek...kenapa pintunya di tutup'. Pikiranku masih tenang.
'Mundur ya.. umi mau dorong pintunya'.
Terlihat dari celah pintu, ia pun menjauh dari belakang pintu.
Pikiranku masih tenang, ku pikir ia hanya terjebak dalam pintu yang rusak saja. Ia tak bisa membuka pintu itu.
'Brugg....ku dorong dengan tenaga yang ada'.
Tapi...
Astagfirullah....
Pintu terkunci....!!!
Cemasku menyeruap dalam dada.
'Dek...Astagfirullah dedek terkunci di dalam nak'.
Ia hanya diam dibelakang pintu, Tak menjawab apa2.
Ya allah...baru kali ini aku merasa sangat-sangat bersalah, anakku aqila terkunci didalam kamar sendirian.
Aku cemas..
Ia tak menjawab apa-apa, sesekali ia hanya menggerakkan badannya di balik pintu.
Seolah merasa tak terjadi apa-apa.
Belum mengerti, jika ia terkunci di dalam kamar.
'Dek..buka nak...kuncinya'. ulangku.
'Iya...' sahutnya.
Kreek...kreek...terdengar suara selot kunci seperti dibuka.
Mundur ya nak...umi mau dorong.
Ia menghindar, dan ku doronglah pintu itu.
Bruggg..
'Astagfirullah.... dek belum kebuka kunci nya'.
Jantungku berdetak kencang. Muncul kekhawatiran yang mendalam.
'Coba ambil kursi merah itu dek', perintahku'.
Terlihat dari celah pintu, disamping lemari pakaian ada kursi kecil berwarna merah.
'Dedek naik ke kursi ya, nanti kuncinya buka lagi'
Kembali ia lakukan, dan bunyi gerakkan kunci pun terdengar.
Kreek...kreek...kreek...
Tapi...
Ternyata nihil, pintu pun tidak berhasil dibukanya.
Pintu masih tetap terkunci dan ia masih di dalam kamar sendiri.
Ya allah..
'Dek coba lagi ya nak..'
Kembali ku instruksikan padanya.
Kreek...kreek...coba mundur lagi nak.
Bismillah...
Bruggggg.....
Kembali ku dorong pintu itu.
Berharap aqila anakku kali ini bisa membukanya.
Dan....
Alhamdulillah..Ya allah..
Pintu pun terbuka.
Aqila anakku berhasil membuka selot an kunci itu.
Aku pun langsung memeluknya.
Lagi-lagi ia hanya nyengir kegirangan. :D
Tergambar dari raut wajahnya, ia sumringah sudah berhasil keluar dan bertemu uminya.
____
Masya allah nak..
Ini pelajaran buat umi.
Agar umi tidak lalai dalam menjagamu.
Karena kamu satu-satu nya amanah dari Allah untuk umi jaga.
Maafkan umi nak.. :'(
Kelak...saat kau sudah dewasa.
Mungkin kau akan tertawa saat membaca tulisan sederhana ini.
Tragedi kunci yang terkunci karena ulah kepolosanmu.
Telah membuat jantung umi berdegup kencang.
-Munjul, Pandeglang-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar